Monday, 4 June 2018

Dakwah Rasulullah

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Islam merupakan agama terakhir yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad saw, untuk membina umat manusia agar berpegang teguh kepada ajaran-ajaran yang benar dan diridhaiNya serta untuk mencapai kebahagiaan didunia dan akhirat. Para Rasul untuk menyampaikan ajaran-ajaranNya kepada segenap manusia. Tugas utama para Rasul adalah menanamkan kepercayaan (keimanan) yang sejati kepada keesaan Allah. Para Nabi dan Rasul mengajarkan umatnya untuk meyakinkan bahwa Allah adalah Dzat pencipta alam semesta.
Sejak Nabi Adam saw, sampai kepada Nabi Muhammad saw, para Rasul menyampaikan misi dan ajaran bahwa tiada tuhan selain Allah. Demikian juga menyerukan penyerahan diri dan jiwa secara bulat kepada Allah. Dalam memperjuangkan dakwah dan menegakkan Islam Rsulullah tidak mudah melakukannya. Karena disana-sini Nabi saw mengalami berbagai hambatan dan rintangan yang luar biasa yang tidak ringan. Adapun kenyataannya, Rasulullah dapat mengatasi semua rintangan yang bertujuan menghalangi perjuangan dakwahnya. Perjuangan demi perjuangan yang dilaksanakan oleh Rasulullah tidaklah mulus, misalnya ketika Nabi akan melaksanakan tugas dakwah kepada masyarakat Thaif.
Rasulullah saw adalah conoth terbaik, dalam menggerakkan dan mengelola dakwah. Keberhasilan dakwah Rasulullah tidak terlepas daripada Tahapan dakwah beliau dan karakteristik dakwah beliau. Bagaimana tidak, hanya dalam waktu 23 tahun beliau berhasil mengajak seluruh bangsa Arab dalam memeluk Islam, yang imbasnya secara alamiah dari generasi ke generasi Islam telah menyebar kejagad raya. Jumlah populasi muslim dunia semakin meningkat. Bahasan seputar dakwah, tak ada rujukan yang paling pantas kecuali merujuk pada warisan sunnah yang telah ditinggalkan manusia paling agung, yakni Nabi Muhammad saw. Allah berfirman dalam Surah Yusuf ayat 108 :
           •           
Artinya : “Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha suci Allah, dan aku tiada Termasuk orang-orang yang musyrik.”(Q.S Yusuf :108)
Inti dari ajaran para Rasul adalah ajaran tauhid (faith in the unity of God). Maka jelaslah bahwa setiap agama wahyu atau agama samawi inti ajarannya adalah berasaskan tauhid (keesaan Allah). Pada hakikatnya misi yang disampaikan para Rasul kepada umat masing-masing adalah sama yaitu mengesakan Allah (ajaran tauhid). Dan kedudukan para rasul adalah sama, yaitu sebagai utusan Allah untuk menyampaikan ajaran-ajaranNya kepada segenap umat manusia.
Sebagai agama terakhir yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad keberadaan agama-agama sebelumya. Perkembangan agama Islam yang disebarkan oleh Nabi Muhammad di Mekkah dan Madinah, dan kemudian berkembang keseluruh penjuru dunia tidak lain adalah karena proses dakwah dan karaktersitik dakwah yang dijalankan oleh Rasulullah dan para tokoh Dakwah Islam saat ini yang disebarluaslan kepada masyarakat.
B.    Rumusan Masalah
1.    Bagaimanakah Pengertian Dakwah ?
2.    Bagaimanakah Tahapan Dakwah Rasulullah ?
3.    Bagaimnakah Karaktersitik Dakwah Rasulullah ?
C.    Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan dari  makalah ini adalah sebagai bahan ilmu penegtahuan bagi kita bersama dan wawasan tentang Karakteristik Dakwah Rasulullah. Selain daripada itu sebagai bahan makalah perbaikan dari mata kuliah Sejarah Dakwah yang kiranya mendapat perubahan kearah yang lebih baik dan teratur. Dan kami sebagai penulis sangat mengharapkan makalah kami ini menjadi ilmu pengetahuan bagi kita bersama tentang mempelajari Sejarah Dakwah terlebih pada “ Karakteristik Dakwah Rasulullah” baik yang dihadapai beliau di Mekkah maupun di Madinah yang disebarkan oleh Rasulullah melalui Karakteristik Dakwah beliau. Maka dari itu sudah seharusnyalah kita memperjuangkan pengorbanan beliau dengan menuntut ilmu sebanyak-banyak dan berjihad di pena kita.


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Dakwah
Ditinjau dari etimologi atau bahasa, kata dakwah berasal dari bahasa Arab, yaitu دعي-يدعو-دعوة  yang artinya adalah mengajak, menyeru, memanggil, dan mendoakan. Dakwah artinya menyeru, memanggil, mengajak kejalan tuhan dan mencegah yang mungkar dan menyuruh berbuat ma’ruf. Pendapat daripada Syehk Bakhial Khauli dakwah adalah satu proses menghidupkan peraturan-peraturan Islam dengan maksud memindahkan umat dari satu keadaan kepada keadaan lain. 
Allah Swt telah menyatakan bahwasanya dakwah sangat penting bagi umat manusia sebagaimana firmanNya dalam Surah Yunus ayat 25 :
             
Artinya : “Allah menyeru (manusia) ke darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang Lurus (Islam).”(Q.S Yunus : 25)
Didalam dunia dakwah orang yang berdakwah biasa disebut Da’i dan orang yang menerima dakwah atau orang yang didakwahi disebut dengan Mad’u. Maka dari itu pesan dakwah harus secara hati-hati disampaikan dengan kepiawaian. Menurut Prof. Toha Yahya Omar menyatakan dakwah Islam adalah sebagai upaya mengajak manusia atau umat dengan cara bijaksana kepada jalan yang benar sesuai dengan perintah Tuhan untuk kemaslahatan di dunia dan akhirat.
Syaikh Ali Makhfudz dalam kitabnya Hidayatul Mursyidin memberikan defenisi dakwah sebagai berikut “ Dakwah Islam yakni mendorong manusia agar berbuat kebaikan dan mengikuti petunjuk (hidayah), menyeru mereka berbuat kebaikan dan mencegah dari kemunkaran, agar mereka mendapat kebahagiaan didunia dan akhirat.” Hamzah Ya’qub menyatakan Dakwah adalah mengajak manusia dengan hikmah (kebijaksanaan) untuk mengikuti petunjuk Allah dan RasulNya. Menurut Buya Hamka Dakwah adalah seruan atau panggilan kejalan Allah dengan Amar Ma’ruf, dan Nahi, Munkar.
Dakwah adalah mengajak, menyeru, dan memanggil kepada jalan Allah dengan cara yang benar dan hak. Dakwah adalah jalan yang harus ditempuh oleh setiap manusia demi menyiarkan agama Islam. Syaikh Muhammad Abduh mengatakan dakwah adalah menyeru kepada jalan kebaikan dan mencegah dari kemungkaran adalah fardhu yang diwajibkan kepada setiap manusia.
Menurut M. Natsir dakwah adalah usaha-usaha menyerukan dan menyampaikan kepada perorangan manusia dan seluruh umat manusia konsepsi Islam tentang pandangan dan tujuan hidup manusia didunia ini, dan yang meliputi al-amar dan al- ma’ruf an nahyu dan munkar dengan berbagai cara dan media yang diperbolehkan akhlak dan membimbing pengalamannya dalam perikehidupan bermsyarakat dan perikehidupan bernegara. 
Menurut Prof. H.M Arifin Dakwah adalah mengandung pengertian sebagai suatu kajian ajakan baik dalam bentul lisan, tulisan, tingkah laku, dan sebagainya yang dilakukan secara sadar dan berencana dalam usaha mempengaruhi orang lain baik secara individual maupun secara kelompok agar timbul dalam dirinya suatu sebagai message yang disampaikan kepadanya dengan tanpa adanya unsur-unsur pemaksaan.
Menurut Prof. Dr. Aboebakar Aceh dakwah adalah berasal dari kata da’a berarti perintah mengadakan seruan kepada semua manusia untuk kembali dan hidup sepanjang ajaran Allah yang benar, dilakukan dengan penuh kebijaksanaan dan nasihat yang baik dan benar. Kata-kata ini mempunyai arti yang luas sekali, tetapi tidak keluar daripada tujuan mengajak manusia hidup sepanjang agama dan hukum Allah. Menurut Ibnu Taimiyah Dakwah adalah merupakan suatu proses usaha untuk mengajak agar orang beriman kepada Allah, percaya dan mentaati apa yang telah diberitakan oleh Rasul serta mengajak agar dalam menyembah Allah seakan-akan melihatNya.
Karena itu dakwah merupakan amar, ma’aruf nahi dan munkar, dakwah tidak selalu berkisar pada permasalahan agama seperti pengajian atau kegiatan yang dianggap sebagai kegiatan keagamaan lainnya. Paling tidak ada tiga pola yang dapat dipahami dalam dakwah. Maka dari itu dakwah adakah jalan para Nabi dan harus diteruskan perjuangan mereka.
B.    Tahapan-tahapan Dakwah Rasulullah
Dalam mengemban misi dan karakter dakwah dan berdakwah Rasulullah melakukannya dalam tiga tahapan. Pertama, seruan terhadap perseorangan (al- marhalah fardiyah), kedua seruan kepada kaum terdekat atau kaum kerabat dan ketiga seruan secara terbuka (al-Dakwah al-a’mmah).  Dan diantara tahapan-tahapan dakwah Rasulullah adalah sebagai berikut :
1.    Dakwah secara rahasia atau sembunyi-sembunyi ( Sirriyatud Da’wah)
Nabi mulai melaksanakan perintah Allah dengan mengajak umat manusia untuk menyembah Allah semata dan meninggalkan harta benda dan berhala. Namun hal demikian banyak mendapat godaan dan tantangan dari kafir Quraisy dan pengaruh mereka. Tetapi dakwah Nabi ini selalu dilakukan secara sembunyi-sembunyi agar menghindari tindakan buruk dari kaum quraisy yang fanatik terhadap kemusyrikan dan paganisme. Nabi menyampaikan dakwahnya tidak jelas di majelis-majelis Quraisy, dan tidak melakukan dakwah kecuali kepada orang-orang yang dekat dengan beliau dan hubungan kerabat atau kenal baik dengannya.
Orang-orang yang pertama kali diajak oleh nabi dan pertama kali masuk Islam ialah dari golongan wanita istrinya sendiri Khadizah binti Khuwailid r.a, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah mantan budak Rasulullah dan anak angkatnya. Abu Bakar bin Abi Quhafah, Ustman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash dan lainnya. Mereka ini bertemu dengan Rasulullah dengan cara sembunyi-sembunyi. Apabila diantara mereka ingin melaksanakan salah satu ibadah, ia pergi ke lorong-lorong Mekkah seraya bersembunyi dari pandangan Quraisy.
Dakwah Nabi secara sembunyi-sembunyi, dan Dakwah Islam dimulai di Mekkah dengan cara sembunyi-sembunyi. Dan Ibnu Ishaq menyebutkan, dakwah dengan cara ini berjalan selama tiga tahun. Dakwah sembunyi-sembunyi berlangsung selama tiga tahun.

2.    Dakwah secara Terang-terangan dan jelas (Jahriyatud Da’wah)
Ibnu Hisyam berkata, kemudian secara berturut-turut manusia, wanita dan lelaki, memeluk Islam, sehingga berita Islam telah tersiar di Mekkah dan menjadi bahan perbincangan orang. Lalu Allah memerintahkan Dakwah secara terang-terangan untuk menyampaikan ajaran Islam dan mengajak kepada kebenaran, setelah tiga tahun berdakwah di Mekkah dengan banyak rintangan dan tantangan selama tiga tahun dengan cara sembunyi-bunyi.
Mengenai dakwah secara terang-terangan ini Allah langsung menjelaskan didalam Al-Qur’an agar berdakwah dengan terang-terangan dan berpaling dari kaum Quraisy (Kafir)
        
Artinya: “ Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.” (Q.S Al-Hijr : 94)
Pada waktu itu pula Rasulullah saw segera melaksanakan perintah Allah, kemudian menyambut perintah Allah, “ Maka siarkanlah apa yang diperintahkan kepadamu dan janganlah kamu pedulikan orang-orang musyrik.” Lalu beliau pergi ke atas bukit Shafa lalu memanggil “ wahai Bani Fihir, wahai Bani ‘Adi sehingga mereka melihat berkumpul dan orang yang tidak bisa hadir mengirimkan orang untuk melihat apa yang terjadi.
Dakwah Nabi saw secara terang-terangan ini ditentang dan ditolak oleh bangsa Quraisy, dengan alasan bahwa mereka tidak dapat meninggalkan agama mereka yang telah diwarisi dari nenek moyang mereka, dan sudah menjadi bagian dari tradisi kehidupan mereka. Pada saat itulah Rasulullah mengingatkan mereka akan perlunya Akidah yang benar dan membawa kepada jalan yang benar. Dan sesungguhnya patung-patung tidak bisa memberikan apa-apa bagi mereka.
C.    Karakteristik Dakwah Rasulullah
Ketika Nabi telah melihat dan mengetahui bagaimana akhlaq nabi yang mulia tersebut, tentu kita sebagai umatnya ingin sekali seperti belaui, karena beliau adalah sebaik-baiknya panutan. Bahkan dalam perkara akhlak, beliau sangat harus tunduk dan patuh sebagaimana yang beliau lakukan, akan tetapi dari segi metode beliau dalam menyampaikan risalah Islam pun harus kita ikuti. Itu jika kita benar-benar ingin mengatakan bahwa beliau adalah suri tauladan kita dalam kehidupan.
Sungguh siapa saja yang meneladani Rasulullah membaca dan mengkaji sirah Nabawiyah, tentu akan sangat mudah melihat bagaimana metode dakwah Rasulullah sejak melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi selama tiga tahun di Makkah dn kemudian dakwah secara terang-terangan selama 10 tahun di Madinah, hingga ketika berhasil mendirikan Daulah Islam di Madinah al Munawarah dalam fase dakwah selama 10 tahun yakni dakwah beliau memiliki karakteristik khas yakni dakwah pemikiran, politik, dan anti terhadap kekerasan.
1.    Dakwah Pemikiran
Sejak diangkat menjadi nabi sekaligus sebagai Rasul yang diutus oleh Allah swt, Nabi Muhammad saw telah mendakwahkan pemikiran kepada warga kota Makkah dan Madinah. Beliau menanamkan kalimat Tauhid La ilaha illaallah kepada mesyarakat kafir Quraisy, agar masyarakat kala itu tidak lagi menyembah patung atau buatan mereka sendiri kemudian mereka sembah.
Rasulullah mengubah pandangan hidup mereka tentang kehidupan, dari cara pandang yang dangkal dengan menyiarkan akidah yang benar sesuai dengan landasan Al-Qur’an. Pandangan mereka tidak sebatas dunia, melainkan justru menembus akhirat. Rasululllah saw mengubah pemikiran umat dari zaman zahiliyah sampai kepada ajaran Nabi Muhammad saw. Karena Allah tidaklah menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada Allah.
Sebab, mereka sendiri memahami bahwa dunia ini hanyalah jalan menuju akhirat. Demikianlah lewat pemukiran Islam baik berupa akidah maupun syariah, Rasulullah saw berhasil membentuk pemahaman, pemikiran, tolak ukur dan keyakinan masyarakat ketika itu menjadi Islam hingga terwujudnya daulah yang islamiyah di Madinah.
Selain itu banyak nash-nash Al-Qur’an maupun perbuatan Nabi yang menunjukkan adanya pergolakan pemikiran (shiratul fikry) untuk menentang ideologi, peraturan dan ide kufur. Juga beliau menentangnya serta pengaruh dan dampak buruknya. 
Allah swt telah berfirman menyampaikan firman swt didalam Qur’an Surah Al-Anbiya’ ayat 98
       •      
Artinya : “ Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah, adalah umpan Jahannam, kamu pasti masuk ke dalamnya.”(Q.S Al-Anbiya : 98)
2.    Dakwah Politik
Secara umum, politik adalah memelihara urusan umat (As- Siyasah hiya riayatut syuunil ummah). Sedangkan politik Islam berarti memelihara dan mengatur urusan masyarakat dengan hukum-hukum Islam dan dipecahkan sesuai dengan ayat Al-Qur’an dan Hadis. Sirah Rasulullah dan banyak ayat Al-Qur’an menunjukkan bahwa segenap aktivitasnya senantiasa memperhatikan dan memelihara urusan masyarakat agar sesuai dengan hukum-hukum Islam. Diantara aktivitas politik yang beliau dan para sahabat-sahabatnya.
Mendidik masyarakat dengan tsaqofah Islam supaya mereka dapat menyatu dengan Islam, agar mereka terbebas dari akidah yang rusak, pemikiran yang salah, dan dari pemahaman yang keliru serta pengaruh ide-ide dan pandangan kufur.
Pergolakan pemikiran yang nampak dalam penentangan terhadap pemikiran dan sistem kufur, pemikiran yang keliru, akidah yang rusak, dan pemikiran, dan pemahaman yang sesat dengan cara menjelaskan kerusakannya.
Dalam bidang sosial, Allah sendiri banyak menjelaskan ayat-ayat tentang politik seperti dalam Surah Al-An’am dan Surah An-Nur. Berdasarkan konteks kekinian, aktivitas politik yang dilakukan dalam upaya penerapan Islam adalah perjuangan dan interaksi dalam lapangan politik memiliki pengaruh yang luar biasa dalam negara-negara Muslim di dunia. Dakwah Rasulullah dalam berpolitik membebaskan kaum dan umat dari belenggu penjajahan dan dominasinya mencabut akar-akar baik di bidang pemikiran, kebudayaan, politik, maupun militer sekaligus mencabut perundangan mereka dari negeri-negeri kaum muslim.
3.    Dakwah Tanpa Kekerasan
Kalau kita berbicara tentang dakwah dari segi perilaku dakwah, maka kita bisa mendapati dan menelaahnya melalui tiga jalur yakni dakwah secara individu, dakwah secara kelompok/organisasi, dan dakwah oleh negara. Pembagian ini sangat penting dilakukan agar dakwah Rasulullah dapat diaplikasikan.
a.    Dakwah secara Individu
Aktivitas dakwah secara individu adalah secara fisik dan non fisik. Maknanya selain melakukan dakwah untuk merubah pola pikir seorang yang dalam hal ini adalah merupakan aktivitas non fisik. Rasulullah berdakwah secara individu melalui pendekatan-pendekatan terhadap Mad’u. Hal ini sebagaimana yang dulu telah dilakukan rasul dan juga sahabanya Sa’ad bin Abi Waqqash yang memukulkan kepala unta kepada salah satu penduduk kafir yang telah mencaci dan mengganggu orang yang lagi sholat.
b.    Dakwah secara Berjamaah/Kelompok
Aktivitas dakwah Rasulullah secara berjamaah dan kelompok adalah hanya dibatasi dari dakwah non fisik saja atau hanya hal pemikiran. Tidak diperbolehkan sebuah kelompok dakwah menggunakan kekerasan dalam melakukan dakwah dan aktivitas dakwahnya.  Ini bisa kita lihat daripada dakwah Rasulullah saw menolak kekerasan dan tidak yang tidak sesuai dengan norma norma Islam. Rasulullah tidak mengatakan kita belum siap yang artinya bahwa sebenarnya Rasulullah telah memiliki  kekuatan untuk melakukan suatu aktivitas fisik, terlebih lagi bahwa kaum Anshar yang merupakan penduduk asli Madinah yang dipersatukan oleh Rasulullah.
    Rasulullah tidak melakukan dakwah dengan cara kekerasan namun, Rasul mempersatukan dengan cara kelompok dan dengan cara berdaulat. Oleh karena itu Sirah Nabawiyah tidak mengajarkan kita bahwa aktivitas sebuah jamaah dakwah adalah aktivitas non fisik atau anti kekerasan.
4.    Dakwah oleh Negara
Aktivitas Dakwah Rasululllah dilakukan denga negara merupakan dakwah secara non fisik. Kata negara berasal dari bahasa Arab وطن yang artinya negeri dan daerah. Dakwah terhadap negara dilakukan agar negara-negara Islam semakin kuat dan menyebarkan Islam kepenjuru dunia dan mempertahankan keyakinan umat Islam. Oleh karena itu dakwah secara  yang dilakukan oleh negara adalah tidak hanya menjalankan surat-surat kepada raja-raja untuk memeluk Islam.
Dakwah melalui negara akan memudahkan penyebaran Islam sampai kepada penjuru dunia dan daerah yang ada dalam Islam. Selain Rasulullah menjalankan diplomasi dan surat kepada raja-raja, akan tetapi Rasulullah juga menyiapkan kekuatan fisik yang ditujukan untuk menghancurkan halangan-halangan fisik yang menghambat masuknya dakwah Islam ke sebuah negara dan tugas dakwah dalam negara.
Selain daripada itu Rasulullah juga berpesan bahwa negara juga bertugas dalam menegakkan keadilan ditengah-tengah umat, dan menghukum siapa saja yang bersalah yang melakukan kesalahan dan dosa dan juga tindakan yang tidak sesuai dengan syariat Islam.

BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dari makalah yang telah kami tuliskan dan cantumkan dapatlah disimpulkan bahwa karakteristik dakwah Rasulullah adalah sangat menyejukkan dan patut dijadikan sebagai panutan dan pedoman hidup umat manusia. Rasulullah adalah suri tauladan yang baik dan sebagai panutan bagi umat manusia. Dakwah beliau yang begitu mengesankan dan menakjubkan sangat berguna bagi manusia dan perjuangannya patut kita jadikan pegangan.
Dakwah artinya menyeru, memanggil, mengajak kejalan tuhan dan mencegah yang mungkar dan menyuruh berbuat ma’ruf. Pendapat daripada Syehk Bakhial Khauli dakwah adalah satu proses menghidupkan peraturan-peraturan Islam dengan maksud memindahkan umat dari satu keadaan kepada keadaan lain.
Tahapan-tahapan dakwah Rasulullah yang sangat mengesankan adalah suatu dakwah yang tersohor didunia. Dakwah secara sembunyi-sembunyi atau Siriiyatud Dakwah yang dilakukan Rasulullah di Makkah terlebih dahulu kepada keluarga terdekat dan keluarga yang selalu bersamanya. Setelah itu Allah swt menyuruh beliau dakwah secara terang-terangan atau Zahriyatud Dakwah yang dilakukan Rasulullah di Madinah al Munawarah.
Dan karakteristik Dakwah Rasulullah adalah sebagai panutan bagi seluruh umat manusia yaitu :
1.    Dakwah secara Individu.
2.    Dakwah secara tanpa Kekerasan.
Dakwah tanpa kekerasan terdapat dua jalur yang digunakan oleh rasul
a.    Dakwah Individu
b.    Dakwah secara Berjamaah atau Kelompok
3.    Dakwah secara dan oleh Negara.
B.    Saran
Demikianlah isi makalah perbaikan kami, kami mengharapkan masukan dan saran dari dosem pembimbing. Dan mudah-mudahn makalah ini dapat menambah ilmu pengetahuan bagi kita tentang karakteristik dakwah Rasulullah. Dan kami sangat mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca yang dapat membangun kita kedepan.
DAFTAR PUSTAKA

Rusdy Ahmad, Metode Ilmu Dakwah, (Tangerang : Indah Perkasa, 2001)
Depertemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Bandung : Diponegoro, 2001)
Suparta Mundzir, Hefni Harjani, Metode Dakwah, (Jakarta : Kencana, 2003)
Yusuf Ali, Munandar, Metodologi Dakwah dan Analisa Ilmu Dakwah, (Yogyakarta : Bumi Ilmu Forum Kajian Dakwah UIN, 2004)
Salabi Ahmad, Mausu’ah al-Tarikh al-Nahdah al-Islamiyah wa al- hadarah Islamiyah, (Kairo : Maktabah al-Nahdahan al-Islamiyah, 2000)
Suwardi, Analisa Sejarah Dakwah Rasul di Makkah dan Madinah, (Solo : Gudang Ilmu Jaya, 2000)
Hisyam Ibnu, Sejarah Dakwah Rasul dan Analisa Dakwah Rasul, (Kairo : Beirut Islamiyah, 2003)
Amir Munir Samsul, Metodologi Ilmu Dakwah, (Jakarta : Sinar Grafika Offset, 2009)
Abduh Muhammad, Metodologi Ilmu Dakwah, (Jakarta : Aksara Cipta Karya, 2001)

Monday, 18 April 2016

Biologi (Tafsir)



Jika ingin bisa tulisan al-Qur'an di ms.word saudara/i atau mau file aslinya e-mail saya ke torasparuliansiregar@gmail.com atau call to 082277013810
nb: jika tidak sedang sibuk


A.    Pendahuluan
Pada zaman dahulu kala, terutama zaman Yunani, orang lebih banyak mempelajari filsafat. Dari filsafat ini, selanjutnya berkembang adanya filsafat alam dan filsafat moral. Filsafat alam mempunyai turunan ilmu-ilmu alam (the natural sciences), sedangkan filsafat moral berkembang menjadi ilmu-ilmu sosial (the social sciences). Nah, ilmu-ilmu alam ini dibagi lagi menjadi dua bagian, yakni ilmu abiotik/non hayati (the physical science) dan ilmu hayati (the biological science). Ilmu hayati inilah yang biasa disebut dengan nama biologi. Biologi dimaksudkan sebagai ilmu yang mempelajari makhluk hidup. Hal ini sesuai, dengan asal kata biologi dari bahasa Yunani, yakni Bios yang berarti ‘hidup’ dan Logos yang berarti ‘ilmu’.
Biologi terus berkembang seiring penelitian dan penemuan-penemuan baru. Terkait dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, contohnya adalah perkembangan mikroskop. Ketika mikroskop pertama kali ditemukan, kemampuannya untuk melihat objek-objek mikroskopis masih sangat terbatas. Kemudian berkembang mikroskop seperti yang umum kita gunakan saat ini yang disebut sebagai mikroskop cahaya karena sumber sinarnya adalah cahaya.
Setelah itu, berkembang pula mikroskop elektron, yaitu mikroskop yang sumber sinarnya adalah elektron, sehingga pengamatan dengan mikroskop ini dapat dilakukan dengan lebih detail dibandingkan dengan mikroskop cahaya. Dengan dukungan teknologi lain, kajian biologi pun mengalami perkembangan, sehingga muncullah penemuan-penemuan baru seperti dalam biologi molekuler, dan bioteknologi. Akibat perkembangan teknologi yang semakin pesat, saat ini biologi sudah merambah pada hal-hal yang dulunya tidak mungkin dilakukan. Biologi akan selalu berkembang sesuai dengan perkembangan kehidupan manusia dan teknologi.


B.     Pengertian Biologi
Biologi atau ilmu hayati adalah ilmu yang mempelajari aspek fisik kehidupan. Istilah "Biologi" dipinjam dari bahasa Belanda, Biologie, yang juga diturunkan dari gabungan kata bahasa Yunani, Bios ("hidup") dan ,Logos ("lambang", "ilmu"). Istilah "ilmu hayati" dipinjam dari bahasa Arab, juga berarti "ilmu kehidupan".  Jadi, biologi adalah ilmu yang mempelajari sesuau yang hidup beserta masalah-masalah yang menyangkut kehidupan.
Pada masa kini, biologi mencakup bidang akademik yang sangat luas, bersentuhan dengan bidang-bidang sains yang lain, dan sering kali dipandang sebagai ilmu yang mandiri. Namun, pencabangan biologi selalu mengikuti tiga dimensi yang saling tegak lurus: keanekaragaman (berdasarkan kelompok organisme), organisasi kehidupan (taraf kajian dari sistem kehidupan), dan interaksi (hubungan antarunit kehidupan serta antara unit kehidupan dengan lingkungannya
Objek kajian biologi sangat luas dan mencakup semua makhluk hidup. Karenanya dikenal berbagai cabang ilmu biologi yang mengkhususkan diri pada kajian tertentu yang lebih spesifik, di antaranya anatomi, anastesi, zoologi, botani, bakteriologi, parasitologi, ekologi, genetika, embriologi, entomologi, evolusi, fisiologi, histologi, mikologi, mikrobiologi, morfologi, paleontologi, patologi, dan lain sebagainya.[1]
Ilmu pengetahuan biologi berhubungaan dengan fenomena yang terdapat pada makhluk hidup. Status makhluk hidup itu bertingkat-tingkat, mulai dari bentuk kehidupan yang paling rendah berupa tumbuh-tumbuhan sampai dengan bentuk kehidupan yang paling tinggi yaitu manusia di atas bumi.[2]
Dalam ilmu pengetahuan Islam, sejarah kejadian alam telah dipelajari dan dipandang sebagai satu kesatuan dalam pengertian saling berhubungan antara satu benda dengan yang lainnya, sebagai dunia ciptaan Allah, yang menurut Islam merupakan satu kesatuan organis. Sejarah alam semesta memegang peranan paling utama sebagai suatu alat pengukur yang mengintegrasikan dan merangkum semua ilmu pengetahuan, dan didalamnya telah dikembangkan berbagai cabang ilmu, mulai dari ilmu pertambangan, sampai dengan ilmu hewan.[3]
Karena pengaruh studi Al qur`an, ilmuan muslim dan semua pengetahuan mereka, tetap berada dalam dunia ketuhanan. Al Qur`an memberikan dorongan kepada mereka untuk bersifat ideal, yang telah memberikan pengaruh terhadap kepercayaan (iman) maupun kegiatan penelitian mereka. Selama melakukan penelitian di bidang biologi, mereka sepenuhnya menyadari tentang kekuasaan Allah untuk menciptakan, sehinnga pengetahuan baru dalam bidang ini membawa mereka lebih dekat kepada Tuhan.[4]

C.    Sejarah Perkembangan Biologi
Berbagai cabang biologi mengkhususkan diri pada setiap kelompok organisme, seperti botani (ilmu tentang tumbuhan), zoologi (ilmu tentang hewan), dan mikrobiologi (ilmu tentang jasad renik). Perbedaan-perbedaan dan pengelompokan berdasarkan ciri-ciri fisik kelompok organisme dipelajari dalam sistematika, yang di dalamnya mencakup pula taksonomi dan paleobiologi.
Berbagai aspek kehidupan dikaji pula dalam biologi. Ciri-ciri fisik bagian tubuh dipelajari dalam anatomi dan morfologi, sementara fungsinya dipelajari dalam fisiologi. Perilaku hewan dipelajari dalam etologi. Perkembangan ciri fisik makhluk hidup dalam kurun waktu panjang dipelajari dalam evolusi, sedangkan pertumbuhan dan perkembangan dalam siklus kehidupan dipelajari dalam biologi perkembangan. Interaksi antarsesama makhluk dan dengan alam sekitar mereka dipelajari dalam ekologi; Mekanisme pewarisan sifat yang berguna dalam upaya menjaga kelangsungan hidup suatu jenis makhluk hidup dipelajari dalam genetika.[5]
Saat ini bahkan berkembang aspek biologi yang mengkaji kemungkinan berevolusinya makhluk hidup pada masa yang akan datang, juga kemungkinan adanya makhluk hidup di planet-planet selain bumi, yaitu astrobiologi. Sementara itu, perkembangan teknologi memungkinkan pengkajian pada tingkat molekul penyusun organisme melalui biologi molekular serta biokimia, yang banyak didukung oleh perkembangan teknik komputasi melalui bidang bioinformatika.[6]
Ilmu biologi banyak berkembang pada abad ke-19, dengan ilmuan menemukan bahwa organisme memiliki karakteristik pokok. Biologi kini merupakan subyek pelajaran sekolah dan universitas di seluruh dunia, dengan lebih dari jutaan.
Ilmu biologi dirintis oleh Aristoteles, ilmuwan berkebangsaan Yunani. Dalam terminologi Aristoteles, “filosofi alam” adalah cabang filosofi yang meneliti fenomena alam, dan mencakupi bidang yang kini disebut sebagai fisika, biologi, dan ilmu pengetahuan alam lainnya.
Aristoteles melakukan penelitian sejarah alam di pulau Lesbos. Hasil penelitiannya, termasuk Sejarah Hewan, Generasi Hewan, dan Bagian Hewan, berisi beberapa observasi dan interpretasi, dan juga terdapat mitos dan kesalahan. Bagian yang penting adalah mengenai kehidupan laut. Ia memisahkan mamalia laut dari ikan, dan mengetahui bahwa hiu dan pari adalah bagian dari grup yang ia sebut Selachē (selachians).
Istilah biologi dalam pengertian modern kelihatannya diperkenalkan secara terpisah oleh Gottfried Reinhold Treviranus (Biologie oder Philosophie der lebenden Natur, 1802) dan Jean-Baptiste Lamarck (Hydrogéologie, 1802). Namun, istilah biologi sebenarnya telah dipakai pada 1800 oleh Karl Friedrich Burdach. Bahkan, sebelumnya, istilah itu juga telah muncul dalam judul buku Michael Christoph Hanov jilid ke-3 yang terbit pada 1766, yaitu Philosophiae Naturalis Sive Physicae Dogmaticae: Geologia, Biologia, Phytologia Generais et Dendrologia.[7]
Pada masa kini, biologi mencakup bidang akademik yang sangat luas, bersentuhan dengan bidang-bidang sains yang lain, dan sering kali dipandang sebagai ilmu yang mandiri. Namun, pencabangan biologi selalu mengikuti tiga dimensi yang saling tegak lurus: keanekaragaman (berdasarkan kelompok organisme), organisasi kehidupan (taraf kajian dari sistem kehidupan), dan interaksi (hubungan antarunit kehidupan serta antara unit kehidupan dengan lingkungannya).[8]

D.     Pembagian Biologi
1.      Pembagian Berdasarkan Kelompok Organisme
Makhluk hidup atau organisme sangat beraneka ragam. Taksonomi mempelajari bagaimana organisme dapat dikelompokkan berdasarkan kemiripan dan perbedaan yang dimiliki. Selanjutnya, berbagai kelompok itu dipelajari semua gatra kehidupannya, sehingga dikenallah ilmu biologi tumbuhan (botani), biologi hewan (zoologi), biologi serangga (entomologi), dan seterusnya.[9]

2.      Pembagian berdasarkan organisasi kehidupan
Kehidupan berlangsung dalam hirarki yang terorganisasi. Hirarki organisme, dari yang terkecil hingga yang terbesar yang dipelajari dalam biologi, adalah sebagai berikut:
a.       Sel;
b.      Jaringan;
c.       Organ;
d.      Sistem organ;
e.       Individu;
f.       Populasi;
g.      Komunitas atau masyarakat;
h.      Ekosistem; dan
i.        Bioma.
Kajian-kajian subindividu mencakup biologi sel, anatomi dan cabang-cabangnya (sitologi, histologi dan organologi), dan fisiologi. Pembagian lebih rinci juga mungkin terjadi. Misalnya, anatomi dapat dikhususkan pada setiap organ atau sistem (biasa terjadi dalam ilmu kedokteran): pulmonologi, kardiologi, neurologi, dan sebagainya). Tingkat supraindividu dipelajari dalam ekologi, yang juga memiliki pengkhususan tersendiri, seperti ekofisiologi atau “fisiologi lingkungan”, fenologi, serta ilmu perilaku.[10]
3.      Pembagian berdasarkan interaksi
Hubungan antarunit kehidupan maupun antara unit kehidupan dan lingkungannya terjadi pada semua tingkat organisasi. Selain mempelajari kehidupan melalui berbagai tingkatan di atas, biologi juga mempelajari hal-hal berikut, melalui cabang ilmunya masing-masing:[11]
a.       Biologi perkembangan (developmental biology): ilmu yang mempelajari tahap perkembangan makhluk hidup (ontogeni) dari telur yang dibuahi menjadi individu;
b.      Genetika: ilmu yang mempelajari pewarisan keturunan;
c.       Etologi: ilmu yang mempelajari perilaku makhluk hidup;
d.      Sistematika: ilmu yang mempelajari keanekaragaman organisme dan hubungannya dengan relasi tertentu;
e.       Ekologi: ilmu yang mempelajari habitat dan interaksi makhluk hidup dengan lingkungannya;
f.       Evolusi: ilmu yang mempelajari perubahan yang terjadi pada makhluk hidup; dan
g.      Ksenobiologi: ilmu pengetahuan spekulatif tentang adanya makhluk hidup selain di bumi.
h.      Mikologi : ilmu yang mempelajari mengenai cendawan/ jamur
i.        Mikrobiologi : ilmu yang mempelajari makhluk-makhluk mikroskopis
Bahkan terdapat sub ilmu biologi yang berkaitan dengan ilmu lain seperti biokimia dan biofisik, dimana ilmu biologi dilihat dari sudut pandang kimia dan fisika.



E.     Ayat-ayat Alqur`an Tentang Biologi
1.      QS. Al-Ghasyiyah : 17-20
a.       Bunyi Ayat
Ÿxsùr& tbrãÝàYtƒ n<Î) È@Î/M}$# y#øŸ2 ôMs)Î=äz ÇÊÐÈ n<Î)ur Ïä!$uK¡¡9$# y#øŸ2 ôMyèÏùâ ÇÊÑÈ n<Î)ur ÉA$t6Ågø:$# y#øx. ôMt6ÅÁçR ÇÊÒÈ n<Î)ur ÇÚöF{$# y#øx. ôMysÏÜß ÇËÉÈ
Artinya :
Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan,  Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan?  Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?


b.      Asbabun Nuzul Ayat
Di dalam suatu riwayat dikemukakan, ketika Allah melukiskan ciri-ciri surga, kaum-kaum yang sesat merasa heran. Maka Allah menurunkan ayat ini  sebagai perintah untuk memikirkan keluhuran dan keajaiban cipataan Allah SWT.( HR. Ibnu Jarir dan ibnu Hatim yang bersumber dari Qatadah.)[12]


c.       Tafsiran AYat
Ÿxsùr& tbrãÝàYtƒ .
(Apakah mereka tidak memperhatikan) dengan perhatian yang dibarengi keinginan mengambil pelajaran yang dimaksud adalah orang-orang kafir Mekkah.     
È@Î/M}$# y#øŸ2 ôMs)Î=äz
(unta bagaimana dia diciptakan).   
n<Î)ur Ïä!$uK¡¡9$# y#øŸ2 ôMyèÏùâ
(Dan langit bagaimana dia ditinggikan)
n<Î)ur ÉA$t6Ågø:$# y#øx. ôMt6ÅÁçR
(Dan gunung-gunung bagaimana ia dipancangkan).
n<Î)ur ÇÚöF{$# y#øx. ôMysÏÜß
(Dan bumi bagaimana dia dihamparkan) maksudnya dijadikan sehingga ia terhampar. Melalui hal tersebut mereka mengambil kesimpulan tentang kekuasaan Allah SWT. Pembahasan ini dimulai dengan unta karena unta merupakan hewan yang paling mereka kenal dari pada binatang yang lainnya. Firman Allah “suthihat”, jelas menunjukkan bahwa bumi itu rata bentuknya. Pendapat inilah yang dianut ulama syara’. Jadi bentuk bumi bukanlah bulat seperti bola seperti yang dikatakan ahli ilmu konstruksi.



Adapun dalam buku karangan al-Maragi tafsiran ayatnya sebagai berikut:
Ÿxsùr& tbrãÝàYtƒ n<Î) È@Î/M}$# y#øŸ2 ôMs)Î=äz
Apakah kaum musyrikin mengingkari apa yang telah Kami ceritakan kepada mereka tentang hari kebangkitan dan apa yng berkaitan dengannya tentang kebahagiaan dan kesengsaraan ? tidakkah mereka tidak memperhatikan prihal kejadian unta yang menakjubkan dan selalu ada dihadapan mereka eserta selalu mereka pergunakan pada setiap kesempatan?.
Unta adalah hewan yang paling dekat kepada hidup orang Arab dari zaman kezaman, sejak tanah itu didiami manusia. Itulah hewan serba guna. Hewan pengangkut dalam perjalanan jauh, hewan yang juga jadi makanan mereka. Bulunya pun dapat dicukur untuk dijadikan benang pakaian. Dagingnya bisa dimakan, susunya bisa diperas untuk diminum.[13]
Unta itu berbadan besar, kekuatannya luar biasa dan tahan menempuh panas terik di padang pasir luas. Tahan lapar dan tahan haus. Disamping itu, makanan unta pun sangat mudah, rumpput-rumput padang pasir yang tidak dapat dimakan oleh hewan lain, namun itulah makanan unta walaupun berduri.Unta sangat patuh kepada manusia, oleh karena itu kebanyakan orang arab menggunakan unta sebagai tanggangan apabila bepergian di padang pasir yang tandus.[14]
Jika mereka mau memikirkan penciptaan unta tersebut, niscaya mereka akan mendapatkan bahwa di dalam penciptaan unta tersebut terdapat suatu keajaiban yang tiada tara dan tiada terdapat dalam penciptaan binatang lain. Adapun kelebihan unta dari binatang lain adalah:
1)      Unta adalah binatang yang bertubuh besar, berkekuatan prima serta memiliki ketahanan yang tinggi dalam menanggung lapar dan dahaga dan semua sifat ini tidak terdapat dalam binatang lain.
2)      Unta sangat tahan dalam melakukan kerja berat, berjalan di tengah panas terik di gurun sahara dengan tidak seberapa kali berhenti dan berjalan sepanjang ribuan kilometer, sehingga dia mendapat gelar atau julukan “Perahu Sahara”.
3)      Wataknya yang penurut baik terhadap anak kecil amaupun orang dewasa dan diapun tetap sabar walaupun sering disakiti.
4)      Untuk memberikan makanan kepadanya cukuplah apa yang ada di padang pasir berupa daun-daunan dan pohon-pohon berduri.
5)      Dikalangan orang Arab unta dianggap sebagai binatang yang menakjubkan. Bahkan mereka memandangnya dengan penuh pesona oleh sebab itu mereka sudah kenal betul dengan watak dan tabiatnya.[15]
Dari uraian di atas, kita dapat mengetahui kekuasaan Allah yang sangat besar, yakni menciptakan unta yang sangat banyak fungsinya bagi manusia. Unta mampu berjalan selama berhari-hari di padang pasir tanpa minum, unta juga mampu membawa barang yang banyak, dan unta mampu memakan rumpt berduri yang tidah bisa dimakan oleh hewan lain. Kita dapat mengetahui hal tersebut dari Al Qur`an dan ilmu lain yang membahas mengenai hal tersebut, seperti ilmu biologi dan sebagainya. Kita harus banyak bersyukur kepada Allah karena telah menciptakan unta yang sangat banyak manfaatnya bagi manusia.




2.      QS. Al-Baqarah : 222-223
a.       Bunyi Ayat
štRqè=t«ó¡our Ç`tã ÇÙŠÅsyJø9$# ( ö@è% uqèd ]Œr& (#qä9ÍtIôã$$sù uä!$|¡ÏiY9$# Îû ÇÙŠÅsyJø9$# ( Ÿwur £`èdqç/tø)s? 4Ó®Lym tbößgôÜtƒ ( #sŒÎ*sù tbö£gsÜs?  Æèdqè?ù'sù ô`ÏB ß]øym ãNä.ttBr& ª!$# 4 ¨bÎ) ©!$# =Ïtä tûüÎ/º§q­G9$# =Ïtäur šúï̍ÎdgsÜtFßJø9$# ÇËËËÈ   öNä.ät!$|¡ÎS Ó^öym öNä3©9 (#qè?ù'sù öNä3rOöym 4¯Tr& ÷Läê÷¥Ï© ( (#qãBÏds%ur ö/ä3Å¡àÿRL{ 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# (#þqßJn=ôã$#ur Nà6¯Rr& çnqà)»n=B 3 ̍Ïe±o0ur šúüÏZÏB÷sßJø9$# ÇËËÌÈ  
Artinya :         
Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: "Haidh itu adalah suatu kotoran." Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman. (QS. Al-Baqarah: 222-223).
b.      Asbabun Nuzul Ayat
1)      Ayat 222:
Diriwayatkan oleh Muslim dan Tirmizi dari Anas bahwa orang-orang Yahudi jika salah seorang wanita mereka haid, maka tidak mereka campuri dan tidak mereka bawa makan bersama dalam rumah. Maka sahabat-sahabat Nabi saw. menanyakan hal itu, hingga Allah pun menurunkan, “Dan mereka bertanya kepadamu tentang haid…” (Q.S. Al-Baqarah 222) Sabdanya pula, “Perbuatlah segala sesuatu kecuali bersetubuh!” Dan diketengahkan oleh Barudi di antara golongan sahabat dari jalur Ibnu Ishak dari Muhammad bin Abu Muhammad dari Ikrimah atau Said dari Ibnu Abbas bahwa Tsabit dan Dahdah menanyakan hal itu kepada Nabi saw. maka turunlah ayat, “Dan mereka bertanya kepadamu tentang haid…” (Q.S. Al-Baqarah 222) Juga Ibnu Jarir mengetengahkan pula yang serupa dengan itu dari Suda.[16]
2)      Ayat 223
Imâm Bukhârî meriwayatkan dalam al-Jâmi’ ash-Shahîh li al-Bukhârînya (9/257) :
حَدَّثَنَا أَبُوْا نُعَيْمِ, قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنِ ابْنِ الْمُنْكَدِرِ, قَالَ سَمِعْتُ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ, قَالَ: كَانَ اليَهُوْدُ يَقُوْلُ: لَوْ أَتَى امْرَأَةً وَهِيَ مُدْبِرَةً, وَلَدُهُ أَحْوَلَ. فَأَنْزَلَ اللهُ: نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ وَقَدِّمُوا لأنْفُسِكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ مُلاقُوهُ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ (٢٢٣)

Artinya :
“Abu Nu’aim telah bercerita kepada kami (Bukhârî), katanya (Abu Nu’aim): “Telah bercerita kepada kami (Abu Nu’aim) Sufyan dari Ibnu al-Munkadir, katanya (Ibnu al-Munkadir): “Saya mendengar dari Jâbir bin ‘Abdullâh, katanya (Jâbir bin ‘Abdullâh): “Dahulu orang-orang Yahudi mengatakan: “Kalau menyetubuhi isteri dari belakang anaknya juling”. Maka Allah SWT. menurunkan:

 نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ وَقَدِّمُوا لأنْفُسِكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ مُلاقُوهُ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ (٢٢٣)
223. “Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu semaumu, dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu dan bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah bahwa kamu sekalian kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman”.

c.       Tafsiran Ayat
1)      Tafsir Ayat : 222
Allah Ta’ala memberitahukan kepada mereka tentang pertanyaan mereka tentang haidh, apakah wanita setelah haidh kondisinya sama seperti sebelum ia haidh? Ataukah harus dijauhi secara mutlak sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Yahudi? Maka Allah Ta’ala mengabarkan bahwa haidh itu adalah kotoran, maka apabila itu adalah kotoran pastilah merupakan suatu hikmah bahwa Allah Ta’ala melarang dari kotoran itu sendiri. Karena itu Allah Ta’ala berfirman, { فَاعْتَزِلُوا النِّسَآءَ فِي الْمَحِيضِ“Hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh”, artinya, tempatnya haidh. Maksudnya, berjima’ di kemaluannya khususnya, karena hal itu haram hukumnya menurut ijma’. Pembatasan dengan kata menjauh pada tempat haidh menunjukkan bahwa bercumbu dengan istri yang haidh, menyentuhnya tanpa berjima’ pada kemaluannya adalah boleh, akan tetapi firman-Nya, { وَلاَتَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ“Dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci”, menunjukkan harusnya meninggalkan mencumbu bagian yang dekat dengan kemaluan, yaitu bagian di antara pusar dan lutut, sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melakukannya, bila beliau akan mencumbu istrinya pada saat istrinya itu sedang haidh, beliau memerintahkan kepadanya untuk memakai kain lalu beliau mencumbunya.[17]
Batasan waktu menjauhi dan tidak mendekati istri yang haidh adalah, { حَتَّى يَطْهُرْنَ“sampai mereka suci”, yaitu, darah mereka telah berhenti, maka apabila darah mereka telah berhenti, hilanglah penghalang yang berlaku saat darah masih mengalir.
Syarat kehalalannya ada dua, terputusnya darah, dan mandi suci darinya. Ketika darahnya berhenti lenyaplah syarat pertama hingga tersisa syarat kedua. Maka Allah berfirman, { فَإِذَا تَطَهَّرْنَ “Apabila mereka telah suci”, maksudnya mereka telah mandi,
{ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللهُ“maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu”, yaitu pada kemaluan depan dan bukan lubang bagian belakang, karena bagian itu adalah tempatnya bersenggama, ayat ini merupakan dalil atas wajibnya mandi bagi seorang wanita yang haidh dan bahwasanya terputusnya darah adalah syarat sahnya mandi. Dan tatkala larangan tersebut merupakan kasih sayang dari Allah Ta’ala kepada hamba-hambaNya dan pemeliharaan dari kotoran, maka Allah berfirman, { إِنَّ اللهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat” yaitu dari dosa-dosa mereka secara terus menerus, { وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ }“dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri”, yaitu, yang bersuci dari dosa-dosa, dan ini mencakup segala macam bersuci dari yang bersifat matrial seperti dari najis maupun hadats.
Ayat ini juga menunjukkan disyariatkannya bersuci secara mutlak, karena Allah Ta’ala menyukai orang-orang yang bersifat dengannya. Itulah sebabnya, bersuci secara mutlak adalah syarat sahnya Shalat, thawaf dan bolehnya menyentuh mushaf. Juga bersuci secara maknawi seperti (mensucikan diri) dari akhlak-akhlak yang hina, sifat-sifat yang rendah dan perbuatan-perbuatan yang kotor.[18]
2)      Tafsir Ayat : 223
{ نِسَآؤُكُمْ حَرْثُ لَّكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ “Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki” dari depan atau dari belakang, yang jelas tidak boleh dilakukan kecuali pada kemaluan (qubul), karena bagian itulah tempatnya bercocok tanam, dan bagian itulah tempat keluarnya anak.
Ayat ini juga merupakan dalil atas haramnya berjima’ pada bagian belakang (dubur), karena Allah Ta’ala tidak membolehkan mencampuri wanita kecuali dari bagian yang menjadi tempat bersenggama. Terdapat banyak hadits-hadits yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang haramnya hal tersebut dan beliau melaknat pelakunya.
{ وَقَدِّمُوا لأَنفُسِكُمْ “Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu”, maksudnya, mendekatkan diri kepada Allah dengan mengerjakan kebajikan-kebajikan, yang di antaranya adalah seorang suami menggauli istrinya dan berjima’ bersamanya dengan maksud ketaatan dan mengharap pahala serta mengharapkan keturunan darinya yang diberi manfaat oleh Allah dengan keberadaan mereka.
{ وَاتَّقُوا اللهَ“Dan bertakwalah kepada Allah”, yaitu, dalam berbagai kondisi kalian. Tetaplah kalian berada di atas ketakwaan kepada Allah dengan menjadikan ilmu kalian sebagai pendorong untuk bertakwa. { أَنَّكُم مُّلاَقُوهُ “Bahwa kamu kelak akan menemuiNya” dan memberikan balasan buat kalian atas amalan-amalan kalian yang shalih dan selainnya.[19]
Kemudian Allah berfirman, { وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ“Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman”. Allah tidak menyebutkan hal yang menjadi kabar gembira buat mereka demi menunjukkan kepada hal yang bersifat umum dan bahwasanya bagi mereka kabar gembira pada kehidupan dunia dan akhirat. Setiap kebaikan dan terhindarnya setiap mudharat yang diakibatkan dari keimanan, itu termasuk dalam kabar gembira tersebut. Ayat ini menunjukkan kecintaan Allah kepada kaum mukminin, dan kecintaan terhadap apa yang membuat mereka merasa bahagia, serta membangkitkan semangat dan kerinduan mereka kepada apa yang dijanjikan oleh Allah dari pahala duniawi maupun ukhrawi.[20]








3.    QS. Al-Mukminun : 12-15
a)      Bunyi Ayat

ôs)s9ur $oYø)n=yz z`»|¡SM}$# `ÏB 7's#»n=ß `ÏiB &ûüÏÛ ÇÊËÈ   §NèO çm»oYù=yèy_ ZpxÿôÜçR Îû 9#ts% &ûüÅ3¨B ÇÊÌÈ   ¢OèO $uZø)n=yz spxÿôÜZ9$# Zps)n=tæ $uZø)n=ysù sps)n=yèø9$# ZptóôÒãB $uZø)n=ysù sptóôÒßJø9$# $VJ»sàÏã $tRöq|¡s3sù zO»sàÏèø9$# $VJøtm: ¢OèO çm»tRù't±Sr& $¸)ù=yz tyz#uä 4 x8u$t7tFsù ª!$# ß`|¡ômr& tûüÉ)Î=»sƒø:$# ÇÊÍÈ   §NèO /ä3¯RÎ) y÷èt/ y7Ï9ºsŒ tbqçFÍhyJs9 ÇÊÎÈ
Artinya :
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari saripati tanah. Kemudian Kami menjadikannya nuthfah dalam tempat yang kokoh. Kemudian Kami ciptakan nuthfah itu ‘alaqah, lalu Kami ciptakan ‘alaqah itu mudhghah, lalu Kami ciptakan mudhghah itu tulang-belulang, lalu Kami bungkus Tulang –belulang itu dengan daging. Kemudian Kami mewujudkannya makhluk lain. Maka Maha banyak keberkahan Allah, Pencipta yang terbaik. Kemudian sesudah itu kamu benar-benar akan mati.”

b)      Tafsiran Ayat :
Allah berfirman dalam Al Qur`an tentang bagaimana proses tahapan penciptaan manusia.(ôs)s9ur $oYø)n=yz z`»|¡SM}$# `ÏB 7's#»n=ß `ÏiB &ûüÏÛ), dari ayat tersebut dijelaskan bahwa, Allah menciptakan manusia bermula dari saripati tanah, yaitu Nabi Adam AS. Kemudian keturunannya diciptakan dari air mani (nuthfah) yang tersimpan dalam rahim ibunya, yang memang tersedia untuk itu. Setelah melewati suatu masa tertentu dijadikanlah air mani (nuthfah) itu menjadi segumpal darah, kemudian segumpal darah itu menjadi segumpal daging. Dari segumpal daging itu tercipta tulang-belulang yang berbentuk kepala, tangan, dan kaki, kemudian dibungkuslah tulang-tulang itu dengan daging, otot, dan urat-urat. Maka terciptalah makhluk yang berbentuk lain yang padanya ditiupkan roh, diberi alat pendengaran, penglihatan, penciuman, bersuara, berfikir, dan bergerak. Sehingga lengkaplah ia menjadi manusia yang utuh, sempurna sebagai makhluk Allah yang terpilih dan yang paling mulia.[21]
Sekelompok mufassir berpendapat bahwa yang di maksud dengan manusia disini ialah putra Adam. Mereka mengatakan bahwa air mani lahir dari darah yang terjadi dari makanan, baik yang bersifat hewani maupun yang bersifat nabati. Makanan yang bersifat hewani akan berakhir pada makanan yang bersifat nabati, dan tumbuh-tumbuhan  lahir dari sari pati tanah dan air. Jadi pada hakikatnya manusia lahir dari saripati tanah, kemudian sari pati itu mengalami perkembangan kejadian hingga menjadi air mani (nuthfah).[22]
Berbeda-beda pendapat para ulama tentang siapa yang dimaksud dengan الانسان (al-insan/manusia) pada ayat 12 di atas, banyak yang berpendapat bahwa yang di maksud adalah Adam. Memang ayat selanjutnya menyatakan “Kami menjadikannya nuthfah,” bukan kami menjadikan keturunannya nuthfah. Namun menurut pendapat di atas, tidak menjadi halangan karena sudah demikian populer bahwa anak keturunan Adam melalui proses nuthfah.[23]
Bagi yang tidak setuju dengan pendapat diatas, ada yang menyatakan bahwa kata al-insan dimaksud adalah jenis manusia. Al-biqa`i misalnya menulis bahwa sulalah min thin/sari pati tanah merupakan tanah yang menjadi bahan penciptaan Adam.[24]
Dalam hadits juga dijelaskan bagaimana tahapan penciptaan manusia, seperti hadits berikut :

أَبِي سَرِيحَةَ حُذَيْفَةَ بْنِ أَسِيدٍ الْغِفَارِيِّ فَقَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأُذُنَيَّ هَاتَيْنِ يَقُولُ إِنَّ النُّطْفَةَ تَقَعُ فِي الرَّحِمِ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً ثُمَّ يَتَصَوَّرُ عَلَيْهَا الْمَلَكُ قَالَ زُهَيْرٌ حَسِبْتُهُ قَالَ الَّذِي يَخْلُقُهَا فَيَقُولُ يَا رَبِّ أَذَكَرٌ أَوْ أُنْثَى فَيَجْعَلُهُ اللَّهُ ذَكَرًا أَوْ أُنْثَى ثُمَّ يَقُولُ يَا رَبِّ أَسَوِيٌّ أَوْ غَيْرُ سَوِيٍّ فَيَجْعَلُهُ اللَّهُ سَوِيًّا أَوْ غَيْرَ سَوِيٍّ ثُمَّ يَقُولُ يَا رَبِّ مَا رِزْقُهُ مَا أَجَلُهُ مَا خُلُقُهُ ثُمَّ يَجْعَلُهُ اللَّهُ شَقِيًّا أَوْ سَعِيدًا
Artinya :
Abu Sarihah Hudzaifah bin Asid Al Ghifari lalu dia berkata; Aku mendengar dengan kedua telingaku ini Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Sesunggunya nuthfah disimpan di dalam rahim setelah empat puluh malam. Lalu datanglah malaikat, aku kira beliau berkata; yang akan membentuknya seraya berkata; Ya Rabb, apakah dia laki-laki atau perempuan? Lalu Allah menjadikannya laki-laki atau perempuan. Kemudian malaikat itu berkata; Ya Rabb, apakah dia menyimpang ataukah tidak? Lalu Allah menetapkan dia menyimpang dan tidaknya. Lalu malaikat berkata; Ya Rabb, bagaimana rizkinya, ajalnya, akhlaknya? Kemudian Allah menetapkan dia bahagia atau celaka. (HR.Muslim).

حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ أَنْبَأَنَا عَلِيُّ بْنُ زَيْدٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا عُبَيْدَةَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يُحَدِّثُ قَالَ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ   قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ النُّطْفَةَ تَكُونُ فِي الرَّحِمِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا عَلَى حَالِهَا لَا تَغَيَّرُ فَإِذَا مَضَتْ الْأَرْبَعُونَ صَارَتْ عَلَقَةً ثُمَّ مُضْغَةً كَذَلِكَ ثُمَّ عِظَامًا كَذَلِكَ فَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ أَنْ يُسَوِّيَ خَلْقَهُ بَعَثَ إِلَيْهَا مَلَكًا فَيَقُولُ الْمَلَكُ الَّذِي يَلِيهِ أَيْ رَبِّ أَذَكَرٌ أَمْ أُنْثَى أَشَقِيٌّ أَمْ سَعِيدٌ أَقَصِيرٌ أَمْ طَوِيلٌ أَنَاقِصٌ أَمْ زَائِدٌ قُوتُهُ وَأَجَلُهُ أَصَحِيحٌ أَمْ سَقِيمٌ قَالَ فَيَكْتُبُ ذَلِكَ كُلَّهُ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ الْقَوْمِ فَفِيمَ الْعَمَلُ إِذَنْ وَقَدْ فُرِغَ مِنْ هَذَا كُلِّهِ قَالَ اعْمَلُوا فَكُلٌّ سَيُوَجَّهُ لِمَا خُلِقَ لَهُ
Artinya :

Telah menceritakan kepada kami Husyaim telah memberitakan kepada kami Ali bin Zaid ia berkata; Aku mendengar Abu Ubaidah bin Abdullah menceritakan; ia berkata; Abdullah berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya air mani berada di dalam rahim selama empat puluh hari tidak berubah, bila berjalan empat puluh hari akan berubah menjadi segumpal darah kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula kemudian menjadi kerangka tulang selama itu pula. Maka bila Allah berkehendak untuk menyempurnakan ciptaanNya, Dia mengutus malaikat kepadanya, lalu malaikat berikutnya bertanya: Wahai Rabb, apakah dia laki-laki atau perempuan? Apakah sengsara atau bahagia? Apakah pendek atau panjang? Apakah kurang atau tambah rizki dan ajalnya? Apakah sehat atau sakit?" Ia berkata; Lalu semua itu dicatat. Kemudian ada seorang laki-laki berkata; Kalau begitu untuk apa beramal kalau semua itu sudah selesai. Lalu beliau bersabda: "Beramallah, karena setiap orang akan diarahkan pada apa yang diciptakan untuknya."(HR.Ahmad).

Pada hadits diatas disebutkan bahwa air mani (nuthfah) itu disimpan dalam rahim, setelah 40 malam air mani tersebut menjadi segumpal darah, setelah 40 hari maka menjadi segumpal daging, setelah 40 hari maka menjadi tulang belulang Allah memerintahkan malaikat untuk menjadikannya laki-laki atau perempuan, kemudian ditetapkan rizkinya, ajalnya, akhlaknya, dan bahagia atau tidak.



4.    QS.Al-Anbiya :30
a.       Bunyi Ayat :
óOs9urr& ttƒ tûïÏ%©!$# (#ÿrãxÿx. ¨br& ÏNºuq»yJ¡¡9$# uÚöF{$#ur $tFtR%Ÿ2 $Z)ø?u $yJßg»oYø)tFxÿsù ( $oYù=yèy_ur z`ÏB Ïä!$yJø9$# ¨@ä. >äóÓx« @cÓyr ( Ÿxsùr& tbqãZÏB÷sムÇÌÉÈ
Artinya ;
Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi keduanya dahulu menyatu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya, dan kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air, maka mengapa mereka tidak beriman ?



 
b.      Tafsiran Ayat :
Ayat ini secara jelas memberikan pandangan Islam tentang asal usul kehidupan diatas bumi. Tidak ada keraguan sedikitpun juga bahwa kehidupan di atas bumi diciptakan dari air atas perintah Allah. Kemudian secara berangsur dan dalam proses waktu, berkembang menjadi bentuk dan rupa yang bermacam-macam sesuai dengan hukum Allah.[25]
Ahli astronomi menetapkan bahwa matahari adalah bola api yang berotasi selama jutaan tahun. Ditengah-tengah perjalanannya yang cepat, planet bumi dan planet-planet lain dari garis khatulistiwa matahari terpisah daripadanya dan menjauh. Demikian pula dengan air itu, Allah menumbuhkan dan menghidupkan setiap tumbuhan. Qatadah mengatakan : “Kami menciptakan setiap yang tumbuh dari air.” Sebagian kaum cendikia berpendapat bahwa setiap hewan pada mulanya diciptakan dari laut. Kemudian, setelah melalui masa yang sangat panjang, hewan-hewan itu mempunyai karakter sebagai hewan darat, dan menjadi berjenis-jenis.[26]




















 




F.     Kesimpulan
1.      Biologi atau ilmu hayati adalah ilmu yang mempelajari aspek fisik kehidupan. Istilah "biologi" dipinjam dari bahasa Belanda, biologie, yang juga diturunkan dari gabungan kata bahasa Yunani, Bios ("hidup") dan Logos ("lambang", "ilmu"). Istilah "ilmu hayati" dipinjam dari bahasa Arab, juga berarti "ilmu kehidupan".  Jadi, biologi adalah ilmu yang mempelajari sesuatu yang hidup beserta masalah-masalah yang menyangkut kehidupan.
2.      QS. Al-Ghasyiyah Ayat 17-20
a.       Unta adalah binatang yang bertubuh besar, berkekuatan prima serta memiliki ketahanan yang tinggi dalam menanggung lapar dan dahaga dan semua sifat ini tidak terdapat dalam binatang lain.
b.      Unta sangat tahan dalam melakukan kerja berat, berjalan di tengah panas terik di gurun sahara dengan tidak seberapa kali berhenti dan berjalan sepanjang ribuan kilometer, sehingga dia mendapat gelar atau julukan “Perahu Sahara”.
3.      QS. Al-Baqarah 222-223:
a.       Ayat tersebut juga menjelaskan tentang haid, yaitu suatu kotoran, karena darah haid adalah kotor dan najis, oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kepada umatnya agar mencucinya sedikit ataupun banyak.
b.      Wajibnya menjauhi wanita (istri) yang sedang haid, dan haramnya jima’ ketika haid (dan nifas) sebagaimana perintah Allah, “…Hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh…”, dan yang dimaksud ‘menjauhi’ dalam ayat adalah ‘jima’’sebagaimana yang dijelaskan oleh rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Berbuatlah apa saja (yang kalian inginkan) kecuali jima’.” (HR. Muslim)
c.       Haramnya melakukan jima’ ketika selesai dari haid atau nifas sebelum ia mandi,  Disyariatkannya bagi seorang suami menggauli istrinya setelah ia suci dari haid. Sebagian Ulama ada yang mewajibkannya akan tetapi yang benar bahwa perintah ‘mencampurinya…’ dalam ayat tersebut menunjukkan diangkatnya larangan tersebut dan boleh melakukannya.
d.      Diperbolehkan bagi seorang suami mendatangi istrinya (jima’) dari arah mana saja (dari depan, belakang atau lainnya) akan tetapi disyaratkan harus pada tempatnya (kemaluannya; tempat jalan keluarnya anak).
e.       Dilarang keras (baca: haram) mendatangi istrinya diduburnya, sebagaimana hal itu di tegaskan pula oleh rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Barang siapa yang mendatangi istrinya (jima’) diduburnya maka Allah Ta’ala tidak akan melihatnya pada hari kiamat”.
4.    QS. Al-Mukminun : 12-15
                        Dalam ayat ini dijelaskan bahwa manusia di ciptakan berfase-fase, pertama manusia itu di ciptakan dari saripati tanah, yaitu Nabi Adam AS. Kemudian keturunannya diciptakan dari air mani (nuthfah), kemudian nuthfah itu disimpan dalam rahim, kemudian nuthfah itu menjadi segumpal darah, kemudian menjadi segumpal daging, kemudian dijadikan tulang belulang, kemudian Allah menciptakannya dalam bentuk lain, yaitu manusia. Sedangkan dalam hadits disebutkan bahwa, air mani (nuthfah) itu disimpan dalam rahim, setelah 40 malam air mani tersebut menjadi segumpal darah, setelah 40 hari maka menjadi segumpal daging, setelah 40 hari maka menjadi tulang belulang Allah memerintahkan malaikat untuk menjadikannya laki-laki atau perempuan, kemudian ditetapkan rizkinya, ajalnya, akhlaknya, dan bahagia atau tidak.
5.    QS.Al-Anbiya : 30
                        Dalam ayat ini dijelaskan bahwa Allah menciptakan semua jenis hewan dari air, kemudian setelah waktu yang panjang, hewan-hewan itu mempunyai karakter sebagai hewan darat, dan menjadi berjenis-jenis.


DAFTAR KEPUSTAKAAN
Al-Barik, Haya binti Mubarok. Ensiklopedi Wanita  Muslimah ,Jakarta: Darul falah, 1424.

Al-Maraghi. Terjemah Tafsir Al-Maraghi 4 , Semarang: Toha Putra, 1999.

Al-Maragi, Ahmad Mustafa. Terjamah Tafsir al-Maragi, Semarang: Toha Putra, 1993.

Arsyad, M. Natsir. Ilmuan Muslim Sepanjang Sejarah,  Bandung,Mizan, 1999, cet.1,.

Bakry, Oemar. Tafsir Rahmat, Jakarta: Mutiara, 1996.

Mattulada, A. Ilmu-Ilmu Kemasyaiaan (Humaniora) Tantangan, Harapan-harapan Dalam Pembangunan, Jakarta: UNHAS, 1991.

Shaleh, H.Q dan A. Dahlan. Asbabun Nuzul, Latar Belakang Historis Turunnya Ayat-Ayat Al-qur’an, Bandung: Diponegoro, 2000.

Yunus, Mahmud. Tafsir Qur’an Karim, Jakarta: Hidakarya, 1993.

Rahman Afjalur, Al Qur`an Sumber Ilmu Pengetahuan, ( Jakarta : Rineka Cipta, 1992).

Quraish Shihab M., Tafsir al-Misbah V.9, (Jakarta : Lentera Hati, 2002)

Bahreisy Salim, Terjemah Tafsir Ibnu Katsir, (Kuala Lumpur : Victory Agencie, 1994)

Hamka, Tafsir Al-Azhar juz xxx, (Surabaya : Yayasan Latimojong, 1982)


[1]M. Natsir Arsyad, Ilmuan Muslim Sepanjang Sejarah,  (Bandung : Mizan, 1999), cet.1, hlm. 40.
[2] Afjalur Rahman, Al Qur`an Sumber Ilmu Pengetahuan, (Jakarta : Rineka Cipta, 1992), hlm.165.
[3] Ibid,
[4] Ibid, hlm.166.
[5]M. Natsir Arsyad, Ilmuan Muslim Sepanjang Sejarah,  (Bandung,Mizan, 1989), cet.1, hlm. 30
[6]Ibid
[7]Ibid,
[8]Ibid,  
[9]A. Mattulada, Ilmu-Ilmu Kemasyaiaan (Humaniora) Tantangan, Harapan-harapan Dalam     Pembangunan, (Jakarta: UNHAS, 1991), hlm. 80.
[10]Ibid,  
[11]Ibid,
[12]H.Q Shaleh, dan A. Dahlan, Asbabun Nuzul, Latar Belakang Historis Turunnya Ayat-Ayat Al-qur’an, (Bandung : Diponegoro, 2000), hlm. 310.
[13] Hamka, Tafsir Al-Azhar juz xxx, (Surabaya : Yayasan Latimojong, 1982)hlm.119-120.
[14] Ibid,
[15]Ahmad Mustafa Al-Maragi, Terjamah Tafsir al-Maragi, (Semarang: Toha Putra, 1993), hlm. 151.
[16]H.Q. Shaleh dan A.A. Dahlan, Asbabun Nuzul (Latar Belakang Historis Turunnya Ayat-Ayat Alqur’an, (Bandung: Diponegoroe, 2000), hlm. 70. 
[17]Mahmud Yunus, Tafsir Qur’an Karim, (Jakarta: Hidakarya, 1973), hlm. 81-87. 
[18]Oemar Bakry, Tafsir Rahmat, (Jakarta: Mutiara, 1996), hlm. 935.
[19]Al-Maraghi, Terjemah Tafsir Al-Maraghi IV , (Semarang: Toha Putra, 1999), hlm. 375.
[20]Haya binti Mubarok al-Barik, Ensiklopedi Wanita  Muslimah ,(Jakarta: Darul falah, 1424 H), hlm. 131-132.
[21] Salim Bahreisy, Terjemah Tafsir Ibnu Katsir, (Kuala Lumpur : Victory Agencie, 1994), hlm.401.
[22] Al-Maraghi, Terjemah Tafsir Al-maraghi, XVIII, (Semarang : Toha Putra, 1989), hlm.11.
[23] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah V.9, (Jakarta : Lentera Hati, 2002), hlm.166.
[24] Ibid,
[25] Afjalur Rahman, Al Qur`an Sumber Ilmu Pengetahuan, ( Jakarta : Rineka Cipta, 1992), hlm.169.
[26] Al-Maraghi, Terjemah Tafsir Al-maraghi, XVII, (Semarang : Toha Putra, 1989), hlm.39-41.